winnie part 2

9042 views
winnie part 2,3.83 / 5 ( 6votes )

Koleksi Cerita Lucah, Buku Lucah, Citer Lucah, Novel Lucah Cerita Seks Melayu Lucah Stim Sangap winnie part 2

Dapatkan kebenaran dari ibubapa anda sekiranya anda di bawah umur 18tahun.

winnie part 2 melayu bogel.com"Lisa ni cantik la.", godaku.
"Boleh tak kalau Abang cium Lisa." kataku semakin nekad walaupun aku tau tak perlu aku katakan begitu.
"Iih. Abang ni.. Ahh..", jawab Lisa. Tapi aku tau dia bersandiwara. aku jadi semakin berani dan bernafsu.
"Lisa. Jangan takut ya. Apa yang Abang nak. Lisa pun nak. Oleh itu. Terus teranglah". Kataku.

Tanpa aku sedari kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku hairan dengan kata-kataku sendiri seolah-olah ada yang memaksaku untuk mengatakan begitu. Sementara itu mata Lisa memandang ke arahku, mukanya yang putih. Manis merah padam jadinya. Bibirnya yang kecil merah merekah dan tampak basah.

"Bangg..", hanya kata itu yang diucapkannya, ia hanya memandangku tanpa sepatah katapun.

Aku mengambil inisiatif dengan menggenggam erat mesra kedua belah tangan kecilnya yang halus mulus.

"Betulkan. Apa yang Abang kata"

Selesai aje aku berkata begitu aku dekatkan mukaku ke wajahnya, dan terus aje aku mengucup bibirnya dengan lembut. Bibirnya begitu hangat dan lembut, terasa nikmat dan manis. Hidung kami bersentuhan lembut sehingga nafasnya kudengar tersekat-sekat, namun Lisa tidak menolak, aku kulum bibir bawahnya yang hangat dan lembut, kusedut sedikit. Nikmat. Kali kedua aku mengucup bibir seorang gadis dara sunti. Mengasyikkan. Tidak lama kemudian, aku lepaskan kucupan bibirku. Aku ingin melihat reaksinya. Semasa aku kucup tadi rupanya Lisa memejamkan kedua belah matanya. Dengan mata yang kuyu dia memandangku. Wajah manisnya begitu mempesonaku, bibir kecilnya yang kukucup tadi masih setengah terbuka dan basah merekah.

"Cammnana. Lisa okay tak? Okay. Kan", tanyaku sambil menahan nafsuku yang bergelora.

Tanpa disedari oleh Lisa batangku sudah tegang tak terkira, kerana batangku menghala ke bawah, sakitnya terpaksa kutahan. Rasa senak pun ada. Aku kucup bibirnya lagi karana aku tak tahan dengan nafsuku sendiri, namun dengan cepat Lisa melepaskan tangan kanannya dari remasanku, ditahannya dadaku dengan lembut. Aku tak jadi mengucupnya.

"Bang." Lisa berbisik perlahan, kelihatan takut dan gemetar.
"Kenapa. Malu lagi?", hanya itu yang terucap. Fikiranku telah dikuasai oleh nafsu. Tak tau nak cakap apa.
"Tapi Bang. Lisa takut Bang"
"Takut apa. Cakap. La. Tak ada yang perlu Lisa takutkan. Percayalah", pujukku meyakinkannya.

Tanpa kusedari kubasahi bibirku sendiri. Tak sabar ingin mengucup bibir kecilnya lagi. Batangku semakin keras. Selain sakit kerana salah parking. Makin membesar, bayangkan aja aku sudah tinggal beberapa babak lagi keinginanku akan dipenuhi, bayangan tubuh gebu. Telanjang bulat. Tak berdaya. Siap untuk di santap. Dara sunti lagi. Ahh alangkah asyiknya.

Tanganku bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meramas jemari tangan. Kini mula meraba ke atas. Menyelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu kuramas lembut. Kupandang busut bulat bak putik kelapa dari balik baju kurungnya. Kelihatan bonjolan penuh berisi daging montok yang sangat merangsang.

Jemari tanganku gemetar menahan keinginan untuk menjamah dan meramas bukit montok itu. aku lihat Lisa masih memandangku. Tergamam. Namun aku yakin dari wajahnya. Dia telah dilanda oleh nafsu berahi yang menggelora. Dan aku rasa dia tahu. Aku telah bersiap sedia untuk menerkam dirinya. Menjamah tubuhnya. Meramas dan akhirnya akan menguasai dirinya luar dan dalam sampai puas. aku senyum dan berhenti seketika namun bisikan-bisikan di belakangku seakan mengatakan, "Teruskan".

Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekad mengusap bahunya yang sedang mekar itu dan ketika jemariku merayap ke belakang, kuusap belahan ponggongnya yang bulat lalu kuramas-ramas. Aduuh mak. Begitu asyik, hangat dan padat.

"Aahh. Bang", Lisa merintih perlahan. Semakin lemah.

Saat itu jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menyelusup ke belah depan pangkal pehanya yang padat berisi, dan mulai mengusap bukit kecil. Bukit cipapnya. Kuusap perlahan dari balik kainnya agak licin, kemudian dengan perlahan aku selak kainnya ke atas dan kulekapkan jemari tanganku di tengah kelangkangnya. Dan aku genggam perlahan. Lisa menggeliat kecil, semasa jemari tanganku mulai meramas perlahan. Terasa lembut dan hangat di sebalik seluar dalam putihnya. Kudekatkan mulutku kembali ke bibir kecilnya yang tetap basah merekah. Hendak menciumnya, namun Lisa menahan dadaku dengan tangan kanannya.

"Iih. Bang.. Aah.. Bb.. Bang.. Jangan ganas-ganas ya Bang", bisiknya. Nafasnya turun naik. Laju.

Kena dah dia ni. Fikirku. Menang. Jari jemari tanganku yang sedang berada di celah pehanya itu terus kumainkan peranan. Aku lupa diri, dan aku tak peduli akibat nanti. Yang terfikirkan saat itu, aku ingin segera menjamah tubuh Lisa, merasakan kehangatannya, bermesra dengannya sekaligus memagut dan merasakan nikmat keperawanannya sampai nafsuku dipenuhi.

Tanpa membuang masa segera aku mengucup bibir kecilnya dengan penuh ghairah. Kuhayati dan kurasakan sepenuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, aku gigit lembut, kusedut mesra. Mm nikmat. Dengus nafasnya terdengar tak menentu sewaktu aku kucup dan kulum lidahnya. Cukup lama.
Aku permainkan lidahku di dalam mulutnya dan dengan mesra Lisa mulai berani membalas cumbuanku dengan menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Terasa nikmat dan manis. Ketika kedua lidah kami bersentuhan, hangat dan basah. Lalu kukucup dan kukulum bibir atas dan bawahnya berganti-ganti. Terdengar bunyi kecapan-kecapan kecil saat bibirku dan bibirnya saling berlaga. Tak kusangka Lisa dapat membalas semua kucupan dengan ghairah begitu.

"Aah. Lisa. Pandaipun. Lisa pernah ada boyfriend ya?", tanyaku.
"Mm. Lisa belum pernah ada boyfriend. Ini Lisa buat yang pertama. Bang.", jawabnya.
"Macam dah biasa aje. Lisa pernah tengok blue film yaa?", tanyaku kembali.
"I. Iya Bang. Ada beberapa kali.", jawab Lisa lalu tersenyum. Tunduk. Malu.

Aku tersenyum. Jemari tangan kananku yang masih berada di kelangkangnya mulai bergerak menekan bukit cipapnya semula. Kuusap-usap ke atas dan ke bawah dengan perlahan. Lisa menjerit kecil dan mengeluh perlahan, kedua matanya dipejamkannya rapat-rapat, sementara mulutnya yang kecil terbuka sedikit. Wajahnya nampak berpeluh sedikit. Kucium telinganya dengan lembut.

"Oohmm. Bb.. Bangg..", bisiknya perlahan.
"Sedap tak Abang buat begini", tanyaku bernafsu.
"Hh.. I.. Iyyaa.. Sedap Bang..", bisiknya terus terang. Dia ni dah naik nafsunya ni. Fikirku dalam hati.

Aku merangkul tubuhnya lebih rapat ke badanku lalu kami kembali berkucupan. Tangan kirinya menarik pinggangku dan memegang kemejaku kuat-kuat. Bila puas mengusap-usap bukit cipapnya, kini jemari tangan kananku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal pehanya terus ke atas. Di bawah baju kurungnya. Menyelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat, sambil terus mengusap. Kurasakan hujung jemariku mulai berada di antara dua buah dadanya. Jemari tanganku merasakan betapa padat buah dadanya. Aku usap perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan-lahan. Kekadang jemari tanganku meramas buah dadanya terlalu kuat. Lembut dan semakin kenyal. Ketika itu juga Lisa melepaskan bibirnya dari kuluman bibirku. Mulutnya menjerit kecil.

"Aaww.. Bang sakitt.. Jangan kuat-kuat..", protes Lisa tapi tetap tersenyum.

Kini secara berganti-ganti aku meramas kedua buah dadanya dengan lebih lembut. Lisa menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan saja tanganku menjamah dan meramas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku ramas buah dadanya terlalu kuat. Aku sudah tak berdaya lagi menahan desakan batangku yang sudah kembang sekembang-kembangnya. Aku buka seluar panjangku di hadapannya. Tinggal seluar dalamku dengan baju kemejaku. Aku tak peduli, macamanapun dia akan lihat juga nanti adik kesayanganku ini. Lisa hanya memandangku. Agak terperanjat.

Aku ambil tangan kirinya dan kuletakkan di celah kelangkangku. Kulihat kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Dalam hatiku berkata. Eehh. Dia. Ni malu-malu tapi mau.,. Tangan Lisa itu mulai menyentuh batangku yang beralaskan seluar dalamku. Apalagi batangku tersengguk-sengguk tak boleh diam. Langsung aku buka seluar dalamku. Aku genggamkan tangannya pada batangku. Aku mengerang nikmat bila tiba-tiba saja Lisa bukannya menggenggam lagi tapi malah meramas dengan kuat. Aku mengeluh nikmat. Kulihat Lisa kini sudah berani menatap batangku yang sedang diramasnya, aku tak tahu apa yang sedang ada dalam fikirannya, aku tak peduli, yang penting kenikmatan.

Aku tarik tubuh Lisa rapat di sampingku dan aku peluk dengan kemas. Lisa menggeliat manja saat aku merapatkan badanku ke tubuhnya yang kecil sehingga buah dadanya yang terasa menekan dadaku. Mm asyikknya. Sementara itu aku cari bibirnya, Lisa merangkulkan kedua lengannya ke leherku, dengan gelojoh tiba-tiba ia pun mengucup bibirku, aku membalasnya dengan tak kurang ganasnya. Lisa termengah-mengah kehabisan nafas. Sementara itu aku tekan batangku kuat ke arah cipapnya. Semasa berkuluman, jemari tanganku mulai merayap ke bahagian belakang tubuhnya, sampai jemari kedua tanganku berada diatas bulatan kedua belah ponggongnya. Kuramas dan kuusap-usap. Aku goyang-goyang daging di ponggongnya sehingga aku dapat merasakan kekenyalan daging ponggongnya yang padat itu.

Lisa merintih dan mengerang kecil dalam cumbuanku. Lalu kurapatkan ke bahagian bawah tubuhnya ke depan sehingga mau tak mau batangku yang telah keras itu berlaga dengan cipapnya yang masih berbungkus. Aku mulai menggesel-geselkan batangku. Lisa diam saja. Mungkin terasa nikmatnya.

Kedua tanganku mulai berleluasa. Mencari kancingnya. Aku turunkan badanku sehingga mukaku berada di depan kelangkangnya. Setelah aku buka kancing kainnya segera aku tarik ke bawah sampai terbuka, pandanganku tak lepas dari kelangkangnya, dan kini terpampanglah di depanku seluar dalam yang berwarna putih. Tampak kesan basah air mazinya di tengah-tengah. Aku memandang ke atas dan Lisa menatapku sambil tetap tersenyum. Wajahnya tampak merah padam menahan malu.

"Abang buka yaa.. Ya?", tanyaku pura-pura. Meminta izin.

Lisa hanya menganggukan kepalanya perlahan. Kedua tanganku kembali merayap ke atas menyelusuri kedua betisnya yang kecil terus ke atas sampai kedua belah pehanya yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun, halus sekali kulit pehanya, aku usap perlahan dan mulai meramas.

" Ooh.. Bang..", Lisa merintih kecil.

Kemudian jemari kedua tanganku merayap ke belakang. Ke ponggongnya yang bulat. Aku ramas-ramas ganas. Aahh. Begitu halus, kenyal dan padat. Ternyata Lisa pandai menjaga diri. Ketika jemari tanganku menyentuh tali bahagian atas seluar dalamnya, aku tarik ke bawah. Betapa indahnya bentuk cipapnya. Seperti kuih putu piring aje. Di bahagian tengah bukit cipapnya terbelah. Masih tertutup rapat liang cipapnya.

Di sekitar kawasan itu hanya terlihat beberapa helai bulu cipapnya. Itupun halus-halus. Begitu bersih dan putih cipap milik Lisa ni, bisik hatiku. Sedang aku menghayati keindahan cipapnya itu. Aku lihat Lisa membuka baju kurungnya. Kemudian aku tolong dia buka branya. Wajahnya sedikit kemerahan menahan malu namun ia berusaha untuk tetap tersenyum. Aduhai. Buah dadanya itu memang cantik. Berbentuk bulat seperti bola tennis, warnanya putih. Bersih. Puting-putingnya masih kecil. Berwarna merah muda brownish pun ada sikit-sikit. Sungguh cantik. Fikirku.

"Lisa ni cantik sekali", bisikku perlahan.

Batangku semakin tersengguk-sengguk tak tentu hala. Lalu Lisa menghulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti sepasang kekasih saja.

"Bang. Lisa dah siap. Lisa akan serahkan semuanya. Seperti yang Abang. Dan Lisa inginkan", bisiknya.

Aku memeluknya. Badanku seperti terkena medan elektrik statik saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua buah dadanya yang bulat menekan lembut dadaku. Jemari tanganku tak berhenti-henti mengusap ponggongnya yang telanjang. Begitu halus dan mulus. aku tak sanggup menahan nafsuku lagi.

"Aahh. Atas katil jom. Abang dah tak tahan ni", bisikku tanpa malu-malu lagi. Lisa tersenyum.
"Terserah Bang. Abang nak buat kat manapun", sahutnya.

Tooiinng. Batangku tersengguk-sengguk seolah-olah bersetuju. Dengan penuh nafsu aku segera menarik tubuhnya ke katil. Kurebahkan tubuh Lisa yang telanjang bulat itu di atas katil, Tubuh Lisa yang telanjang bulat kelihatan dengan jelas dari hujung rambut sampai hujung kaki. Lisa memandangku. Menunggu apa yang akan berlaku seterusnya.

Aku buka baju kemejaku. Aku merayap keatas katil. Dan baring di sebelahnya. Kami berkulumam lidah sebentar. Sementara tanganku merayap ke seluruh tubuhnya. Aku usap kedua buah dadanya sambil meramas-ramas perlahan. Kemudian tanganku turun ke bawah. Ke celah kelangkangnya. Sambil mengusap-usap di situ. Sampai terasa lelehan air mazinya di jariku. Lisa merintih-rintih kecil.

Aku geserkan mukaku tepat berada di atas kedua bulatan buah dadanya, Jemari kedua tanganku mulai merayap di dua gunung miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua buah dadanya. Dan aku uli secukupnya gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok. Lisa merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat.

"Bang.. Mm.. Mm.. Iih.. Geli Bang..", erangnya perlahan.

Beberapa saat kumainkan kedua puting-puting buah dadanya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Lisa menggeliat lagi. Aku gentel sedikit putingnya dengan lembut.

"Mm Bang", Lisa semakin mendesah tak karuan dan aku ramas-ramas kedua buah.
"Aaww. Bbaa.. Nngg..", Lisa mengerang dan kedua tangannya memegang kain cadar dengan kuat.

Aku semakin menggila. Tak puas kuramas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara berganti-ganti. Seluruh permukaan buah dadanya basah. Kugigit-gigit lembut puting-puting buah dadanya secara bergantian sambil kuramas-ramas sampai Lisa berteriak kecil kesakitan.

"Bangg.. Sshh.. Shh.. Oohh.. Oouww.. Banngg..", erangnya.

Aku tak peduli. Lisa menjerit kecil sambil menggeliat ke kiri dan kanan, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meramas rambut kepalaku. Kedua tanganku tetap meramasi kedua buah dadanya berganti-ganti sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat. Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengucup, mengulum dan menghisap kedua buah dadanya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut, puting buah dadanya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap. Lisa hanya boleh mendesis, mengerang, dan beberapa kali menjerit kuat ketika gigiku menggigit lembut putingnya. Beberapa tempat di kedua bulatan buah dadanya nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku. Mm. Mm. Ini benar-benar nikmat.

Setelah cukup puas. Bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah buah dadanya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan hisapanku, terlalu jelas dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusatnya, Lisa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan peluh menambah nafsu sex-ku yang semakin memuncak, kukucup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah.

Aku undur ke bawah lagi. Dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas bukit cipapnya yang indah mempesona. Tapi kelangkangnya terkatup membuatku kurang berleluasa untuk mencumbu cipapnya.

"Buka kaki Liza ye", kataku tak sabar.
"Ooh. Bbaanngg", Lisa hanya merintih perlahan bila aku membuka kelangkangnya.

Kelihatannya dia sudah lemas aku permainkan, tapi aku tau dia belum orgasme walaupun sudah terangsang. Sekarang ini aku ingin merasakan kelazatan cairan kewanitaan dari liang cipap seorang gadis sunti. Aku memperbetulkan position kepalaku di atas kelangkang Lisa. Lisa membuka ke dua belah pehanya lebar-lebar. Kini wajahnya yang manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak tak terurus. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegang kain cadar, dia kelihatannya rasa tertekan.

"Lisa", kataku mesra.
"Lepaskan saja perasaan. Jangan takut. Kalau Lisa merasa nikmat. Menjerit saja. Biar puass", kataku selanjutnya.
"I.. Iya b.. Bbanngg.. Se.. Seedapp banngg..", sambil tetap memejamkan mata ia berkata perlahan.

Aku tersenyum senang, sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yangg luar biasa sayang, bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan meragut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya. Kuhayati beberapa saat keindahan cipapnya itu. Cipap milik Lisa ini masih Fresh. Kulit di bibir cipap dan di sekitar cipapnya itu masih tembam, tidak kerepot. Kedua bibir cipapnya tertutup rapat sehingga susah untuk aku melihat lubang cipapnya. Benar-benar dara sunti fikirku bangga. Aahh. Betapa nikmatnya nanti saat celah cipap dan liang cipapnya mengemut batangku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya air maniku ke dalam liangnya nanti sebagai tanda kenikmatan dunia yang tak terkata. Aku berharap agar Lisa juga boleh merasakan pancutan air maniku yang hangat, agar dia juga dapat merasakan kenikmatan yang kurasakan.

Seterusnya tanpa kuduga kedua tangan Lisa menekan kepalaku ke bawah. Ke arah cipapnya. Hidungku menjunam di antara kedua bibir cipapnya. Empuk dan hangat. Kuhidu sepuas-puasnya bau cipapnya penuh perasaan, sementara bibirku mengucup bahagian bawah bibir cipapnya dengan penuh bernafsu. Aku sudu-sudu cipapnya dengan mulutku, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pehanya dan meramas ponggongnya yang bulat dengan ganas. Rasa cipapnya. Mm. Yummy. Ada sedikit manis dan masin. Nikmat. Lisa menjerit-jerit nikmat tak karuan, tubuhnya menggeliat hebat dan kekadang melonjak-lonjak kencang, beberapa kali kedua pehanya mengepit kepalaku yang asyik berkulum dengan bibir cipapnya. Kupegang kedua belah ponggongnya yang sudah agak berpeluh agar tidak bergerak terlalu banyak, sementara bibirku masih bermain-main di cipapnya.

"Mm.. Bangg.. Auuww.. Aaww.. Hgghhkkhh..". Lisa mengerang-erang.
"Bang.. Ssedapp.. Bangg.. Aahh aduuhh.. Oouuhh..", ia memekik cukup kuat kerana nikmatnya.

Kedua tangannya bergerak meramas rambut kepalaku, sambil menggoyang-goyangkan bahunya yang seksi. Kekadang ponggongnya dinaikkannya sambil terkejang nikmat kekadang. Digoyangkan ponggongnya seirama dengan nyonyotanku kepada cipapnya.

"Bangg.. Oouhh.. Yaahh.. Yaahah.. Bang.. Huhuhu.. Huhu..", Lisa berteriak semakin keras.

Terkadang Lisa seperti menangis. Mungkin tidak berdaya menahan kenikmatan yang kuhasilkan pada cipapnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kepala Lisa berpaling ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan. Aku semakin bersemangat melihat reaksinya. Mulutku semakin buas, dengan nafas tersekat-sekat kusingkap bibir dengan jemari tangan kananku. Mm. Kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan air mazinya. Sebelah bawah terlihat celah liang cipapnya yang amat sempit dan berwarna kemerahan. Aku cuba untuk membuka bibir cipap Lisa agak luas, namun Lisa tiba-tiba menjerit kecil. Ternyata aku terlalu luas menyingkap bibir cipapnya.

Kuusap dengan lembut bibir cipapnya. Kemudian lalu kusingkap kembali perlahan-lahan bibir nakalnya itu, celah merahnya kembali terlihat, atas liang cipapnya kulihat ada tonjolan daging kecil. Juga berwarna kemerahan. Batu permatanya. Bahagian paling sensitif. Mm. Ni dia mutiara nikmat bagi Lisa fikirku, lalu dengan rakus lidahku kujulurkan keluar dan mulai menjilat batu permata itu.

Tiba-tiba Lisa menjerit keras sambil kedua kakinya menyentak-nyentakkan ke bawah. Lisa mengejang dengan hebat. Dengan kemas aku memegang kedua belah pehanya dengan kuat lalu sekali lagi kulekatkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir cipapnya, kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kuteluskan lidahku menembusi apitan bibir cipapnya dan kembali menjilat nikmat permatanya.

"Hgghggh.. Hhgh.. Sshshhshh..", Lisa menjerit tertahan dan mendesis panjang.

Tubuhnya kembali mengejang. Ponggongnya diangkat-angkat ke atas sehingga lebih senang lidahku menyelusup masuk dan mengulit-ulit batu permatanya. Tiba-tiba kudengar Lisa seperti terisak dan kurasakan terdapat lelehan hangat singgah ke bibir mulutku. Aku mengulit permatanya sehingga tubuh Lisa mulai terkulai lemah dan akhirnya ponggongnyapun jatuh kembali ke katil. Lisa melenguh tak menentu. Menghayati nikmat yang baru pertama kali dia rasakan, kenikmatan syurga dunia miliknya. Celah cipapnya kini tampak agak lebih merah. Seluruh kelangkangnya itu nampak basah. Penuh dengan air liur bercampur lendir yang kental. Mm. Mm. Aku jilati seluruh permukaan bukit cipapnya.

Tags: #bangg #bibirnya #dengan #jemari #kedua #kekadang #ketika #menyelusuri #sementara #seperti #ternyata #wajahnya